Sering merasa sial???

Source Gambar : Pixabay
Kehidupan kita selalu berhubungan dengan self talk. Dalam 1 hari kita bisa ratusan kali berdialog dengan diri kita sendiri. Dan bentuknya kita bertanya kepada diri kita lalu kemudian kita berfikir lalu menjawabnya. Dan terbentuklah keputusan.
Misal kita akan makan, maka dalam diri kita langsung ada pertanyaan, mau makan apa ya? Saat bertanya otak berfikir lalu memilih makanan apa yang akan di makan. Inilah akhirnya keputusan makannya. Sederhana kan proses self talk kita.
Nah proses keputusan ini juga sering kali berdasarkan persepsi kita. Contohnya saat makan lagi. Di mulai dari bertanya ke diri kita mau makan apa, lalu otak berfikir dan melakukan persepsinya. Ah jangan-jangan ga ada yang bisa di makan atau mau beli bakso tapi nanti udah tutup. Inilah persepsi. Kita membuat persepsi jangan-jangan ga ada yang bisa di makan, padahal kan belum terjadi, belum terkonfirmasi, ada yang bisa di makan atau tidak. Ini baru “jangan-jangan”, masih bentuk prasangka saja.
Atau mau beli bakso “jangan-jangan” sudah tutup. Ini persepsi kita saja, baru prasangka dan belum terjadi. Karena belum di cek kan.
Lalu akhirnya, karena kita sudah berprasangka “jangan-jangan” tidak ada, “jangan-jangan” tutup dan secara tidak sadar kita membuat realitanya terjadi. Lalu kemudian kita katakan ah sial, bener kan ga ada, bener kan udah tutup.
Dan saat ini terjadi berulang, akhirnya menjadi sebuah pola. Karena setiap berprasangka atau membuat persepsi hal itu kemudian benar-benar terjadi sehingga itu semakin menguatkan persepsi nya bahwa dirinya “selalu” sial.
Nah pola inilah yang menjadi magnet kesialan, kita menarik kesialan untuk terus datang karena persepsi kita bahwa kita ini sial.
Ada juga seorang istri yang cemburuan kepada suami. Selalu berprasangka kepada suami bahwa suami selingkuh. Padahal suaminya baik-baik saja, ga pernah selingkuh. Karena prasangka inilah, yang awalnya suami tidak ada niat selingkuh karena terus dicurigai akhirnya suami benar-benar selingkuh.
Kemudian si istri membenarkan diri. Tuh kan emang benar dia selingkuh, dari awal saya sudah curiga, sekarang ketahuan juga. Ini akibat dari prasangka istrinya, secara tidak sadar menjadikan selingkuh jadi realita yang dialaminya sendiri. Dia mencoba membuktikan suami selingkuh dan terus fokus ke hal itu dan ini lah yang membuat realita itu benar-benar terjadi karena sebuah persepsi, sebuah prasangka.
Ada juga orang tua yang memiliki anak yang katanya bermasalah, nakal, tidak mau diatur dan semisalnya. Orang tua secara tidak sadar memberi anak label nakal saat masih kecil, karena misalkan main sampai malam, atau sekedar lompat-lompat lalu tersenggol guci kesayangan dan pecah.
Di sini orang tua memberi label anak nakal, dan diterima oleh si anak. Oh saya ini ternyata nakal. Anak membuat persepsi dirinya nakal. Orang tua anak juga punya persepsi anaknya nakal. Lalu jadilah anak semakin hari semakin nakal akibat dari persepsi orang tuanya. Lalu baru orang tua cari-cari terapis supaya bisa mengobati anaknya yang nakal. Padahal itu adalah keputusan sendiri membuat anak nakal. Cari terapisnya bisa juga cari saya. Hehehe
Jadi semua berawal dari prasangka, persepsi.
Jadi semua berawal dari prasangka, persepsi. Kalo begitu kenapa kita tidak berprasangka yang baik-baik saja. Bahkan di dalam hadits dikatakan bahwa jika kita ingin berprasangka buruk maka carilah 1000 alasan untuk berprasangka baik.
Misal soal makan tadi, kenapa kita tidak berprasangka jangan-jangan banyak yang bisa di makan, atau jangan-jangan masih buka. Saat sial, jangan-jangan ini tanda mau beruntung, ah benar saya ini sangat beruntung. Karena bersama kesulitan pasti ada kemudahan, begitu kan kata Al-Qur’an.
Jadi yang akan di dapat adalah prasangka yang baik-baik dan realitanya pun bisa menjadi baik. Jadi udah ga sial lagi kan.
Tapi cara persepsi atau berprasangka ini diakibatkan oleh sampah-sampah emosi yang dulu pernah disimpan. Mulai dari pola asuh orang tua sampai persepsi negatif terhadap diri sendiri. Jadi harus release dulu sampah-sampah emosinya.
Kalo butuh dampingan memperbaiki persepsinya biar kualitas hidup lebih baik dan menarik kebaikan yang lainnya bisa saya bantu terapi mandirinya nih.
Sudah lebih tersentil kan, semoga kita bisa memiliki kehidupan yang baik ya. Dan semoga tulisan ini menjadi perantara untuk merubah persepsi kita. Jangan-jangan tulisan saya ini bermanfaat dan banyak dibaca lalu mengubah banyak kehidupan. Mudah-mudahan bermanfaat.
Salam,
Dari Teman Baikmu,
M Ihsan Apriansyah
Founder Makna Grafia Handwriting Analysis dan linkdiri.com
Handwriting Analysis Practitioner
Hypnotherapist
Trainer NLP